Kamis, 13 November 2014

Rumah Tumbuh

Maaf burem :(

Judul : Rumah Tumbuh
Penulis : Farah Hidayati
No ISBN : 9797-759-335-5
Tahun Terbit : 2005
Rating : ☆☆☆ 
Sinopsis : 

Alysa adalah seorang anak bungsu. Karena ketidakadilan urutan lahir dengan sendirinya dia merasa menjadi sosok yang paling tidak dianggap di rumahnya. Namun, ia akhirnya menemukan eksistensinya di sekolah dengan menjadi ketua redaksi MACMading Anak Cendekia. Ambisinya lumayan gede. Pengin membuat MAC menjadi juara bertahan dalam lomba mading tahunan. Dengan panik Alysa mencari nama-nama baru untuk menambah anggota redaksi. Pilihan jatuh pada sepasang kembar siam dan seorang murid baru.

Ghifa, sang murid baru, rupanya cukup cerdas dan mampu mengimbangi cara berpikir Alysa, padahal dia tumbuh di kampung yang jauh dari kehidupan serba modern. Di sisi lain, kehadiran Ghifa juga melahirkan persoalan-persoalan baru dalam hidup Alysa. Peristiwa demi peristiwa terangkat. Mengantarkan merekan pada sebuah simpul. Dunia selalu memiliki keterhubungan yang tidak bisa diduga.



*
*
*
*
Yang aku ingat, buku ini adalah buku yang pertama kali papaku beri padaku saat kelas 1 SMP. Waktu itu aku terlalu kecanduan dengan komik serta nilai Bahasa Indonesiaku benar-benar hancur. Saat itu aku tidak terlalu berniat membacanya, namun demi menghargai papaku, aku terpaksa membacanya.

Dan kelas 2 SMP, novel ini baru benar-benar aku mengerti apa maksudnya. Dan fakta jika novel ini menang penghargaan Adikarya IKAPI untuk Nominasi Buku Bacaan Remaja adalah hal yang membuatku tercengang. Ceritanya memang bagus aku akui, tema yang diangkat dan eksekusinya aku memang bilang bagus, tapi untuk ending yang menggantung tidak pada tempatnya, apakah pantas untuk menang?

Yah, mari lupakan pertanyaan kenapa buku ini bisa menang penghargaan dan kembali membahas novel ini. Aku suka tempat yang diangkat penulis, Banjarmasin. Kota seribu sungai, seribu cerita dan selalu ada sungai disetiap ceritanya. Dua sudut pandang yang diangkat, Alysa dan Ghifa benar-benar ditata dengan apik serta dua sudut pandang ini memang benar-benar terasa seperti real  pemikiran perempuan dan pemikiran lelaki. Karena harus aku akui, aku manusia yang cukup nyebelin kalau sudah menemukan sebuah buku yang mengangkat sisi lawan jenis dan ternyata jatuhnya malah seperti perempuan yang numpang nama lelaki.

Sorry for that, because I spend half of my life with my boy friend. So, basically I know what they paradigm about something.

Untuk judulnya sendiri, aku suka makna yang ada dibaliknya. Rumah tumbuh, rumah yang tumbuh bersama orang-orang yang tinggal didalamnya. Kalau di Banjarmasin, konsep ini sendiri sudah sangat jarang ditemui karena tanah di kota sudah sangat mahal dan langka karena pembangunan yang tidak merata. Dan perumahan yang dikembangkan oleh development-development juga tidak mengembangkan konsep ini, jadi kalau mau mencari konsep rumah seperti ini sangat susah. Dan untung saja aku masih bisa menemukannya di kampungku di Banjarmasin sana, jadinya masih dapat bayangan bagaimana konsep yang coba diangkat oleh penulisnya.

Kekurangannya adalah ending. Jujur saja, kasus korupsi yang menjerat ayahnya Alysa itu tidaklah mengejutkanku (karena emang korupsi itu sudah membudaya kan di negeri kita) dan pemikiran Alysa bahwa ayahnya tidak bersalah itu sebenarnya klise banget. Namun aku masih penasaran, gimana ayahnya Alysa? Dia diapain sama negara? Atau malah rencana si Josi buat ngeluarkan ayah Alysa itu berhasil?

Kenapa cuma disodorkan ending Alysa dan Ghifa nonton konser Gigi serta lirik lagunya?! Tolonglah, aku tidak setuju dengan penyelesaian macam ini :(

Dan jangan lupakan catatan kaki yang baru dikasih pada halaman terakhir. Serius, kenapa gak dibuat footnote saja biar gak bolak-balik buka ke halaman terakhir. Menganggu konsentrasi saja.

Pada akhirnya, aku dilema untuk memberikan berapa rating karena melihat tulisanku diatas. Dan dengan perasaan dilema, aku memberikan tiga dari lima bintang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku