Rabu, 26 November 2014

Soba Ni Iru Yo


Judu; : Soba Ni Iru Yo
Penulis : Yoana Dianika
No ISBN : 978-602-9397-19-2
Tahun Terbit : April 2012
Rating : ☆☆ ½
Sinopsis: 

Mika Nakajima harus pindah ke Tokyo saat SMA. Kehidupannya di Tokyo serba enggak terduga. Di kelas barunya, Mika bertemu dengan Ren, cowok super-rese yang mengadakan audisi pencarian pacar. la rutin mengadakan seleksi bagi cewek satu sekolah yang mengantre ingin jadi pacarnya. Sialnya, si playboy slebor ini selalu menghantui hidup Mika di Tokyo.

Mika sendiri masih belum bisa melupakan kenangan indah di Desa Shirakawa, kampung halamannya. Takayama bersaudara, sahabat masa kecilnya, masih selalu terbayang di ingatan Mika. Terutama Kak Kenji, cowok yang ia sukai sejak kecil.

Bisakah Mika menaklukkan hidup barunya di Tokyo? Mungkinkah ia bisa bertemu lagi dengan ketiga sahabatnya sewaktu kecil?



*
*
*
*


Niichan, cinta tidak pernah salah. Menyukai seseorang di luar kendali akal sehat kita  Mika (hlm 88)

Buku yang dibeli saat ada diskon besar-besaran dari Mizan. Ini salah satu dari buku-buku hasil kekalapan  ヽ(*・ω・)ノ #nak

Sebenarnya, buku ini temanya mainstream banget. Beberapa bab di awal-awal cerita ini persis seperti salah satu komik yang aku baca beberapa tahun lalu (dan seingatku masih ada di lemariku sampai sekarang). Namun aku tetap membacanya dan pada akhirnya aku bisa menemukan kisah yang ... yah lumayan asik untuk dinikmati.

Namun aku merasa cukup terganggu dengan setiap bab yang menyisipkan lirik lagu yang panjang (banget). Kalau satu atau dua baris boleh saja, ini hampir memakan setengah halaman dan iya sih setengah dari setengah halaman itu bahasa Jepang dan sisanya translation bahasa inggrisnya. Tapi tetap saja ... menganggu banget!

Selain itu, maksud penulisnya ingin memamerkan jika dia bisa bahasa Jepang (yeah, penulisnya kan kuliah di jurusan Sastra Jepang), namun malah justru membuatku merasa eneg. Padahal aku yakin kata-kata Jepang yang digunakan masih ada padanan bahasa Indonesianya. Selain itu, ada beberapa kata yang lupa diberikan catatan kaki (dan kata-kata itu cukup krusial bdw) yang membuatku bingung.

Dan aku sebenarnya kecewa dengan novel ini karena tidak mengekplorasi hal yang sebenarnya bisa membuat cerita ini lebib baik, yaitu band yang keempat tokoh ini bentuk. Padahal jika di eksplorasi lebih dalam dan lebih pelan (karena bab sebelumnya baru bentuk band dan bab selanjutnya sudah menjelaskan kalau band mereka sudah lumayan terkenal). Rasanya jangal saat alurnya terlalu cepat :(

Oh iya, satu lagi. Aku yakin semua tokoh ini berada di kelas ekonomi menengah dan saya merasa bingung kenapa merk-merk pakaian yang branded asal Jepang juga ikutan di sini. Aku tahu jika maksud penulisnya baik, untuk memperlihatkan jika dia tahu seluk beluk Jepang, tapi aku merasa penggunaanya tidak tepat di novel remaja yang bukan mengangkat tema high class.

Dua bintang sebenarnya yang ingin aku berikan. Namun quote-quote ini membuatku memberikan tambahan setengah bintang :)

Walaupun kita berharap bahwa kisah cinta yang kita lalui berakhir bahagia, nyatanya kita tidak bisa mengatur cinta agar sesuai dengan keinginan kita—Ren (hlm 91)


Saat kamu mencintai degan senyuman, suatu saat kamu harus rela melepaskannya dengan tangisan—Ren  (hlm 92)



Seseorang yang mencintaimu akan melakukan hal-hal istimewa untukmu, melebihi apa yang dia lakukan untuk dirinya sendiri Hana (hlm 104)


Cinta kadang memang angkuh, tapi dari sudut tertentu kadang lembut. Bisa membuai, tapi di saat tertentu akan menghempaskan hingga seolah mati rasa seperti ini—hlm123


Kadang cinta menyedihkan, ya. Walaupun begitu, satu-satunya hal yang enggak bisa munafik adalah cinta. Mau memungkiri untuk melupakan, nyatanya tetap ingat—Ren (hlm 138)



Kalau gagal menjadi terbaik untuk orang lain, menjadi terbaiklah untuk diri sendiri, dengan jujur pada perasaan sendiri—Ayumu (hlm 143)


Saat mencintai seseorang, kita belajar untuk menghargai orang yang kita cintai—Ren (hlm 149)

2 komentar:

  1. Setuju banget sama pendapat kamu!

    Emang sih aku cuma sekilas baca, cuma liat sinopsis, prolog, bab terakhir dan epilog. #plakk salahkan kebiasaan burukku yang gak mau membaca buku sad end T-T

    Tapi walau gitu aku udah apa ya? Ilfeel? Aku gak masalah sama lirik lagu, cuma gak suka aja gitu banyak kata2 Jepang yang dimasukkin. Emang sih FFn Naruto juga sama. Tapi kan? Gak sebanyak itu jugaaaa hiks hiks. Padahal baru baca sekilas. :"(

    Yang bikin aku kesel, kenapa novelnya jadi juara? Jadi ngephpin pembaca kan? Padahal aku lihat ada novel (dalam lomba yang sama tapi gak menang) lebih bagus dari novel ini. Klo gak salah judulnya No Other. Keren banget deh novelnya. ;)

    Salam,
    Putri Nadia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata ada yang sependapat ya :"))

      Bdw, meskipun aku kasih nilai Love Storm dua setengah bintang (juga) tapi aku rasa novel itu malah lebih cocok jadi pemenang di juara 3 loh. Bukan karena tema korbannya sih yang di angkat, tapinlebih kepada perkembangan tokohnya yang sesuai dengan usia mereka.

      Tapi sayangnya aku emang gak bisa berdamai lagi dengan teenlit tema pasaran. Apalagi kalo baca manga persis sana seperti novel yang aku baca :/

      Hapus

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku