Sabtu, 13 Desember 2014

Jika Cinta Dia

Bukan satu hati untuk dua, tapi dua hati jadi satu

Judul: Jika Cinta Dia
Penulis: Koko Ferdie
No ISBN: 9786027702295
Tahun Terbit: July 2014
Jumlah Halaman : 180 halaman 
Rating: ☆☆ ½
Jenis: Paperback
Sinopsis: 

Gea bahkan selalu menunggu senyum Andro ketika ngobrol di kantin bersama teman-temannya. Selalu berada di baris depan ketika ada acara pensi yang menampilkan Star Band—grup band milik Andro—di sekolah. Selalu menunggu momen di mana Andro berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring. Selalu dan selalu begitu yang bisa dia lakukan. Dan semua menjadi sangat mustahil saat dia mulai melihat kaca. Melihat wajah dekilnya sendiri di sana, dengan kacamata tebal, serta behel yang memagari semua giginya.

Benarkah semua ini tidak ada gunanya?

***

Banyak cowok yang terlahir di dunia ini dengan kemasan charming, tapi seberapa banyak cowok di dunia ini yang tidak menjadikan penampilan sebagai syarat utama cari pacar? Mungkin dari sekian banyak cowok di sekolah, cowok macam itu bisa dihitung dengan jemari satu tangan saja.

Anyway, nggak ada salahnya kan Gea berharap? Dia juga sama seperti manusia lain, yang berjuang dengan cara apa pun supaya bisa bahagia. Kalaupun pada akhirnya dia harus kecewa, dia yakin hati yang jujur akan menceritakan semuanya….



*
*

*
*

God, finally I finish read this book!! *tebar confetti*

Karena aku masih dalam masa malas baca tapi pengen buat review, jadilah buku ini yang kupilih. Sekalian menebus dosa karena aku kasih rating dua ke buku ini padahal baru baca tiga bab meskipun setelah dibaca ratingnya cuma naik setengah dari penilaian awal.

Pertama, mari kita bahas hal-hal yang cukup mengangguku di buku ini. Ada banyak sebenarnya, dan point-point di bawah ini mewakili kenapa aku memberika dua setengah bintang saja.
  1. Tentang gadis buruk rupa yang selalu diulang-ulang di tiga bab pertamaSaya sebagai (mantan) cewek cupu sewakru SMA benar-benar merasa tersinggung dengan pernyataan cewek cupu pasti jelek. Apalagi tokoh utamanya, Gea digambarkan sebagai orang yang tidak percaya diri banget. Give me a break! Gak banyak cewek cupu kayak model begin dan penulisnya malah memperkuat stigma jika cupu itu harus seperti karakter utama di sini.
  2. Ketidakonsistenan kecepatan alur Serius, selama saya baca buku ini aku menghitung lima bab pertama itu hanya membahas satu hari dan selanjutnya malah alurnya cepat banget. Tahu-tahu bab terakhir sudah Gea dan Defan goodbye ala-ala pasangan yang baru sadar perasaan satu sama lain. Too chiche for ending.
  3. Logika yang seolah diabaikan novel ini. Logika pertama, mana ada cewek yang bisa masuk team cheerleader cuma modal dekat sama ketuanya dan dekat dengan waktu acara pula. Tiga minggu latihan untuk menjadi tim inti cheerleader? Please don't make joke to me. Aku punya teman-teman cheers waktu SMA dan untuk bisa tampil di event saja mereka latihan setiap hari selama tiga bulan, itupun yang paling cepat! Logike kedua, temannya Andro itu bego atau apaan sih pas buat taruhan itu? Sudah jelas-jelas Gea pasti nerima Andro sebagai pacarnya, jadi ngapain kasih taruhan motor? Kebanyakan duit atau logikanya gak jalan gegara stress mendekati UAS? #heh
  4. Chara development yang kurang banget. Jujur saja, diantara semuanya.tokoh, aku justru malah mendapatkan chemistry dari tokoh pendukung seperti Gisel dan Bayu yang tidak seberapa munculnya di buku ini. Selain itu, maaf saja ya, aku merasa karakterisasi mereka gak cocok. Oiya, aku sebal setengah mampus pada tokoh bernama Andien. Caranya menarik perhatian itu such annoying dan aku tiba-tiba ingat cewek nyebelin di kelas yang sifatnya kurang lebih dengan Andien di dekat cowok yang aku suka, sigh
  5. Setting tempatnya yang tidak terasa. Aku bahkan setelah membaca sampai pertengahan novel baru tahu jika setting novel ini adalah di Jogjakarta. Benar-benar tidak ada clue kalau kisahnya berada di Jogja.
  6. Love depelopment terlalu cepat. Oke, aku tahu jika sejak awal Gea sudah suka sama Andro, tapi perasaan Gea ke Defan itu terlalu cepat rasanya. Padahal baru kemarin benci setengah mampus, kok besok-besoknya sudah naksir? Apa ini karena ketidakkonsistenan waktu yang digunakan segingga aku merasa lack for feeling development antara Gea dan Defan?
  7. Tanda elipsi yang kurang diperhatikan. Oke, saya rasa tanda elipsi (...) ini memang cukup menganggu, dimana seharusnya setelah kata terakhir diberikan spasi sebelum menggunakan elipsi lalu spasi lagi sebelum melanjutkan ke kalimat selanjutnya. Mungkin penulisnya harus baca buku EYD lagi biar tidak salah lagi buku selanjutnya.
  8. Penulis yang terpaku dengan fisik seseorang. Oke, gak munafik jika jaman sekarang kita selalu meihat fisik seseorang sebelum kepribadiannya. Tapi dari semua novel yang pernah kubaca, inilah novel dimana fisik adalah hal yang paling sering di bahas dan seolah jika kita o\punya fisik jelek tidak akan bisa dapat pacar atau bahkan pendamping. Padahal, teman-temanku yang cowok (dan ganteng pastinya, huehhehe) kebanyakan malah berpacaran dengan cewek biasa dan beberapa malah menurutku seperti langit dan bumi. Bagiku, orang yang hanya peduli dengan fisik saja tidak pantas untuk mendapatkan seseorang yang baik.



Kelebihan buku ini selain cepat untuk dibaca (aku hanya membutuhkan waktu satu jam untuk membacanya. Rekor tercepat dalam membaca sebuah buku), adalah beberapa quote yang menurutku bagus untuk menjadi pembelajaran. Diantaranya:
  • Hidup akan terasa bermakna bila dekat dengan kematian, dengan begitu kita akan berusaha berbuat baik sebelum ajal datang (hlm. 21)
  • Gelap dekat dengan malam. Malam dekat dengan mimpi. Dan gantungkan mimpi dalam gelap malam waktu kamu berdoa sebelum tidur. Yakin aja bahwa esok hari akan cerah walau gelap mendahului (hlm. 21)
  • Kalau aku bersikap menyebalkan atau nggak sopan seperti yang kamu bilang, terus kamu marah, apakah kamu masih merasa sedih? (hlm. 110)
  • Berikan aku sebuah alasan... supaya aku tahu hatiku tidak sedang tersesat saat ini (hlm 115) [maaf jika tanda elipsinya tidak di spasi, karena aku mengikuti apa yang ada di bukunya] 



Dan pada akhirnya, hanya dua setengah bintang yang bisa kuberikan ke buku ini. Tiga bintang menurutku too good too be true for this book namun dua bintang sepertinya terlalu kejam. Yeah, pembaca rewel dan pemilih sepertiku memang agak kejam memberikan review.

3 komentar:

  1. Balasan
    1. Cover unyu gak berguna kalau isinya gak banget :|

      Hapus
  2. elipsis tiap penerbit kayaknya emang beda beda mbak. Ada yang pake spasi dulu dan ada yang gak. Bagus reviewnya :D

    BalasHapus

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku