Senin, 22 Desember 2014

[UPDATE] Tanda Elipsis yang Di Anggap Sepele


Oke, kali ini aku bakalan posting sesuatu yang selama ini bikin aku jengah saat baca novel. Katakan aja aku bawel, sok ngerti EYD (padahal juga ini masih belajar), tapi aku merasa sudah gak sanggup pendam sendiri dan mungkin diantaranya kalian ada yang bisa kasih alasan logis soal satu ini.

Tapi sebelumnya, paham gak sih soal tanda elipsis?
Atau mungkin baru tahu hari ini? Penjelasan di bawah ini semoga dapat membantu kalian yang membaca ini.

Pengertian elipsis
1. Tanda yang berupa tiga titik yang diapit spasi (...), menggambarkan kalimat yang terputus-putus atau menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan (KBBI QTmedia offline, aplikasi KBBI di Android)
2. Tanda yang dipakai dalam kalimat yang terputus-putus (Penyusun,Tim. 2013. Pedoman Umum EYD dan Pembentukan Istilah. Jogjakarta : Diva-Press)

Dan yang buat aku risih itu sebenarnya penggunaan tanda ini yang kebanyakan salah kaprah. Apalagi jika aku temukan di sebuah cerita yang berasal dari penerbit besar, jadi kadang mau tanya sama editornya kenapa hal ini bisa lewat saja. Kalo editornya malas kasih spasi kan bisa minta penulisnya betulkan sesuai dengan panutan EYD kita (._. ") maaf saya bawel

Contohnya (yang salah kaprah):
1. Dia yang begitu bebas dan kekanak-kanakan... (hlm v. I Find It In Your Eyes)
2. "Mana nih si Gea... dicari selalu ngumpet!" (hlm 152. Jika Cinta Dia)
3. "Yah biasa... flu dan demam. Kecapekan." (hlm 78. Good Memories)
Dan masih banyak lagi deh. Capek aku Kalo nulis semuanya.

Seharusnya:
1. Dia yang begitu bebas dan kekanak-kanakan .... (hlm v. I Find It In Your Eyes)
2. "Mana nih si Gea ... dicari selalu ngumpet!" (hlm 152. Jika Cinta Dia)
3. "Yah biasa ... flu dan demam. Kecapekan." (hlm 78. Good Memories)

Untuk contoh nomer 1 kenapa titiknya ada empat dan bukan tiga seperti contoh lainnya karena berada di akhir kalimat dan titik tambahan sebagai penanda akhir kalimat.

Mungkin ... Kenapa tanda elipsis ini yang versi pertama (dan salah tentu saja) sering banget muncul di novel daripada versi yang benar itu karena dilihat tidak begitu menarik (iya, aku mengakui kalau yang seharusnya digunakan itu agak gak enak di lihat). Tapi bukankah sebagai penulis harusnya menaati beberapa peraturan yang sudah baku di dalam bahasa meskipun menulis itu salah satu kebebasan bentuk mengekspresikan diri. Dan mungkin kecerewetan aku ini karena waktu masih aktif di FFn, sering banget kena tegur sama penulis lain karena masalah ini (*ノ∀`*) jangan curhat mbak

Oke, sekian posting singkat soal elipsis ini. Mungkin ini akan menjawab kenapa aku selalu menulis postingan yang menggunakan elipsis dengan spasi dan kenapa aku selalu mengkritik novel yang elipsisnya tidak diperhatikan.


UPDATE!

Jadi setelah bertanya kepada orang-orang yang sekitarnya kompeten untuk dimintai pendapat, begini sistematika standar tanda elipsis:

1. Penerbit yang menempelkan tanda elipsis tepat di belakang kalimat. (contohnya: "Iya... itu aku.")


  • Penerbit Haru
  • Penerbit Spring
  • Gramedia (dan imprintnya)
  • DivaPress  (dan imprintnya)



2. Penerbit yang memberikan spasi tanda elipsis tepat di belakang kalimat (contohnya: "Iya ... itu aku.")


  • Penerbit Bentang Pustaka
  • Penerbit Dar!Mizan

2 komentar:

  1. Aku malah baru tahu loh, makasih infonya Dear ... :)

    BalasHapus
  2. wah, saya juga malah baru tau kalau itu disebut elipsis dan aturan pakainya diapit dua spasi. selama ini dempet gitu aja huhu. salah kaprah. thanks mbak infonya

    BalasHapus

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku