Minggu, 28 Desember 2014

Why I Love Book?

Source here. Edited by me

Jadi setelah blog walking tadi dan sekalian untuk melepaskan stress karena hari Minggu masih ngampus untuk ujian praktikum, hahaha, aku menemukan sebuah postingan yang menarik sehingga menggelitikku untuk menuliskannya juga. Well, tentu saja dengan sudut pandangku.




Why I Love Book? 


Ngg ... sebenarnya ini sedikit banyak berhubungan dengan daddy complex a.k.a menganggap ayah or bapak or papa or whatever you call your father sebagai role mode dalam segala hal yang kamu lakukan. Jadi karena papaku suka baca buku (bisnis sih. Kalopun ada baca novel, bahasanya yang nyastra banget) dan karena aku waktu itu masih kecil serta suka nanya-nanya terus kalau papaku sedang membaca, pada akhirnya aku dibelikan majalah anak-anak, Bobo. Yah, meskipun pada awalnya gak mau dibaca juga karena menurutku gak sama dengan punya papaku. Jadi untuk mengakalinya, papaku baca dulu majalah itu dan tentu saja aku lihatin, baru nanti dikasih ke aku biar mau baca XD dasar anak nakal

Masuk SD, bacaanya naik tingkat jadi komik. Meskipun komik yang boleh dibeli cuma Doreaemon sih (soalnya kata papa komik selai Doraemon gak boleh dibaca sampai aku dianggap bisa milih sendiri apa yang mau aku baca), tapi tetap saja bangga dong. Meskipun kalau baca komik harus minimal dua kali baca, karena baca pertama itu lebih kepada lihat-lihat gambar dan baca kedua baru dibaca tulisannya. Sekarang sih kadang masih begitu juga, biar bisa tahu ini komik bagus apa enggak. Kan sayang buang waktu tapi ternyata komiknya ... asdfghjkl silahkan terjemahkan bahasa KZL saya, hahaha :p

Dan karena saat masuk SMP aku sudah agak bosan dengan komik sementara gak boleh beli komik cantik (itu tuh, komik seri yang biasa di komik Cherry atau Nakayoshi), jadinya buku bisnis papaku aku embat juga saking gak ada bacaanya. Baca majalah Bobo sudah berasa bukan umurnya lagi meskipun artikelnya bagus sih, huhuhu. Tapi ... tetap saja kan dan karena papaku gak mau anaknya nanti kuliah di jurusan Manajemen ataupun sebangsanya meskipun sampai sekarang aku ingin bertanya kenapa pada akhirnya aku dibeliin novel, yaaay. Novelnya itu berjudul Rumah Tumbuh (yang kebetulan sudah aku review di sini). Dan hobi yang satu ini berlanjut sampai sekarang meskipun kadang pasang surut akibat masalah sepele seperti buku yang dipinjam teman gak kembali ataupun akunya sensi baca buku gara-gara guru Bahasa Indonesiaku kejam banget ngasih aku nilai iya maap saya masih bodjah nan alay waktu itu

Jadi alasan aku mencintai membaca buku karena papaku. Kalau gak ada beliau, aku gak bakalan mungkin bisa baca buku-buku keren dan memberikan pelajaran berharga pada diriku.


Lalu Gimana Tanggapan Orang Sekitar Soal Hobimu ini?

Awalnya:

Gak mau menerima. Menganggap hobi yang sia-sia. Membuat orang jadi kuper dan sayangnya aku orangnya introvert yang gak suka terlalu bergaul sama orang lain, apalagi kalo ribut. Bisa migren mendadak kepala ini :"))

Dulu aku sering dibicarain dari belakang soal hobiku ini waktu, bahkan ada beberapa yang berencana bully aku karena hobi ini eyah seh, salahku masuk sekolah anak holang kayah kalo aja aku gak temenan sama ketua preman. Jadi intinya, temanku yang badung adalah penyelamat hidupku waktu SMA, hahaha. Beneran, bully membully dan punya geng eksis itu bukan di sinteron ato di novel doang, sekolahku itu persis seperti deskripsi sinetron sama novel. Makanya aku suka bawel kalo novel mengangkat tema begituan tapi gak riset secara detik. Hey, saya dari lingkungan itu loh =))

Eh, kok jadi melenceng gini sih, huhuhu :"))

Awalnya pokoknya gak ada yang setuju soal hobiku ini. Bahkan temanku yang preman itu aja nanya kenapa aku suka baca buku dan bukan hal lain seperti cewek kebanyakan. Dan aku jawab aja asal, "biar anti mainstream." Dan ternyata cewek anti mainstream yang selalu diingat kan :p #eaaa

Kalau kuliah sih, teman-temanku yang cewek awalnya juga gak setuju. Bahkan ada yang sengaja nyindir aku mendingan uangnya dipakai buat beli emas atau perak. Dan aku agak malas jawab yang satu itu, karena investasi menurutku gak cuma soal perhiasan, membaca buku itu juga insvestasi masa depan kok. Investasi untuk selalu berpikir kritis, berpikir dari sisi lain dalam menghadapi suatu masalah dan siapa tahu bisa jadi penulis kan?

Tapi kadang mamaku juga gak terlalu suka sama hobiku ini sih. Bukannya apa, mamaku cuma gak tega sama buku-bukunya yang harus di jejelin di lemari buku. Padahal giliran aku mau beli lemari buku baru malah dibilang gak usah (-_- ")

Source here



Sekarang:

Teman-temanku sudah mulai terima hobiku. Bagi mereka, aku juga gak tampak kuper kok meskipun memang gak bawel kalau ngomong  ya habis bingung mau ngomong apaan dan kadang malah mereka merekomendasikan buku yang (katanya bagus). Aku juga dikasih hadiah ulang tahun sebuah buku yang aku kepengenin banget dan aku gak ngomong sih kalau itu mengandung unsur sedikit homo hahaha :p

Lagipula kalau ada yang bilang hobi baca buku itu = cupu = kuper itu salah banget. Buktinya aku masih bisa bersosialisasi dengan orang lain, bisa membagikan pengetahuan baru dan yang paling penting : AKU GAK BERPENAMPILAN CUPU!

Yah, sebenarnya cupu itu juga sih yang menjadikanku memberikan nama blog ini The Cute Geek, agar semua orang tahu kalau membaca itu bukan berarti cupu dan gak peduli penampilan. Banyak kok yang suka baca buku tapi penampilannya menarik (meskipun aku lebih suka menggunakan pakaian sporty sih. Bukannya apa, lingkungan kuliahku mayoritas cowok dan mainan sama batu dan lumpur sih :"))

Dan sebenarnya, baca buku itu malah membantu kita bisa memulai komunikasi pada orang lain dengan melihat sifatnya secara general. Kita bisa menyesuaikan pembicaraan lawan bicara kita karena kita secara tidak sadar langsung teringat adegan suatu bacaan yang pernah kita baca dan memikirkan apa balasan yang cocok agar pembicaraan gak berhenti. Kalau untuk aku pribadi sih, selain untuk berkomunikasi juga untuk membaca perilaku seseorang agar aku tahu barus bersikap apa agar orang tersebut respek pada kita.

Source here


Menurut Kamu, Bagaimana Minat Baca Anak Muda Sekarang?



Duh, seolah-olah aku tua banget ya, padahal masih remaja begini juga #maumu

Menurutku sih, minat bacan anak muda Indonesia itu sudah mengalami peningkatan, itu terbukti semakin banyaknya book blogger yang muncul dan toko buku yang sekarang isinya gak didominasi oleh orang tua melulu. Aku ingat banget waktu jama SMP, kalo ke toko buku pasti yang seusia itu jarang banget. Pasti yang banyak om-om atau malah oma-oma. Jadinya pada akhinya gak jadi cari buku malah dengerin curhatan oma-oma soal cucunya :")) kayaknya emang aku magnet pemanggil orang curhat deh

Namun apakah Indonesia bisa dikategorikan sebagai negara yang gemar membaca seperti negara barat sana? Aku bilang masih jauh banget. Soalnya menurut penelitian yang pernah aku baca, sebuah negara maju itu minimal penduduknya membaca 50 - 100 buku dalam setahun atau kuarang lebih satu buku per minggu jika dia mengambil jumlah buku minimum yang dibacanya. Sementara Indonesia sendiri? Aku pernah baca kalau satu orang di Indonesia itu dalam setahun rata-rata pada baca buku 2,5 - 5 buku. Miris gak sih? Padahal salah satu syarat menjadi negara maju kan rakyanya senang membaca :( (oh iya, tolong koreksi data yang saya pakai di sini beserta link artikelnya agar saya bisa merubahnya)

Meskipun seperti itu, tapi aku senang sekarang dunia literatur Indonesia, khususnya karya sastra populer semakin berkembang pesat. Bukan saja soal banyaknya karya yang muncul di pasaran, tapi juga penerbit-penerbit baru yang semakin memberikan warna pada dunia perbukuan Indonesia. Semoga saja dengan kehadiran penerbit baru dan karya-karya yang berkualitas, minat baca orang Indonesia semakin tinggi.


Harapannya untuk Literatur Indonesia Bagaimana?

Semakin banyak karya anak muda Indonesia yang diangkat cetak. Semakin banyak seminar-seminat kepenulisan di daerah luar Jawa (karena banyak kok penulis kece yang berpotensi di luar Jawa. Ayo tinggalkan comfort zone!). Semakin banyak karya yang bekualitas yang berada di toko buku dan bukannya hanya demi kejar setoran sehingga buku yang gak layak angkat cetak ikutan di cetak. Dan lebih terpenting, sering-sering ngadain buntelan khusus book review dong :p tolong abaikan kalimat yang paling terakhir

.

.

.

Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Bingkisan Cinta Baca


3 komentar:

  1. Aku dulu juga gitu, sejak SMP sampai SMA mah pas pensi dan acara penting malah milih mojok baca Da Vinci Code atau Harry Potter. Buku yg tebel itu.. sampe temenku geleng2 semua. Tapi ya dimaklumin sih, dan alhamdulillah ga ada yg bully hihi..

    Trus sekarang kuliah dimana? Kalau masih dibully coba yg bully di kasih batu aja.. pasti bakalan diem. Apalagi dikasihnya batu berlian.. Hehe

    BalasHapus
  2. Kuliah di Kalimantan, jurusan Teknik Perminyakan :)

    Haduh kak, dikasih batu berlian Kayaknya juga entah malah dijadikan mata bor deh sama mereka. Kan kita tahunnya berlian dipake buat bor batu -_- #heh

    Gak kok kak. Siapa yang mau bully aku? Yang ada ntar aku yang bully balik mereka, haha :p
    Kan bully membully itu jaman SMA. Sekarang jaman itu sudah lewat

    BalasHapus
  3. Hi! I have 3 reading themes (including limitless colours levels) that start their second year in February. I award prizes and interact with my guests... Please have a look. :) Happy 2015 from central Canada! https://cmriedel.wordpress.com/riedel-challenges-2015/

    BalasHapus

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku