Rabu, 28 Januari 2015

Ally (All These Lives) Chapter 1 & 2

Judul: a l l y (all these lives)
Penulis: Arleen A
No ISBN: 978-602-03-0884-5
Tahun Terbit: Januari 2015
Jumlah Halaman: 264 halaman
Rating: ☆☆☆☆ ½
Jenis: ebook (file pdf lebih tepatnya)
Penerbit: Gramedia Pustaka
Sinopsis:
Apa yang akan kaulakukan jika satu menit yang lalu kau anak tunggal orangtuamu, lalu satu menit kemudian ada seseorang yang muncul entah dari mana dan duduk di sampingmu mengaku sebagai adikmu? Apa yang kaulakukan jika kau menemukan foto di meja, menampilkan dirimu dan seseorang yang belum pernah kaulihat? Apa yang kaulakukan jika kau pulang ke rumah dan menemukan bahwa di dalam rumah itu sudah ada dirimu yang lain?

Kehidupan Ally memang bukan kehidupan biasa. Kerap kali ia mendapati dirinya ditempatkan dalam kehidupan yang seolah miliknya, tapi ternyata bukan. Dan tiba-tiba kata “pulang” punya makna yang baru. Apakah Ally akan memiliki kesempatan untuk “pulang”? Akankah ia bisa kembali pada cinta yang ditinggalkannya di kehidupannya yang lain?

Ini bukan kisah biasa. Ini kisah yang akan membuatmu berpikir kembali tentang arti hidup dan arti cinta yang sebenarnya.



*
*
*
*

Sebelum aku lupa jalan ceritanya, lebih baik aku mereview buku ini secepatnya. Aku berkesempatan menjadi 'first reader' buku ini yang diadakan oleh blog Hobby Buku @ HobbyBukuShelf dan ekspetasiku cukup tinggin dengan buku ini, karena tema yang diangkat adalah tema yang aku sukai.

Ceritanya dibuka dengan Ally yang berusia 10 tahun yang menceritakan dirinya sendiri dan kehidupannya. Dan saat melihat ibunya memanggang kue, tiba-tiba saja dia terlempar ke dimensi lain yang secara kasat mata terlihat sama namun sebenarnya berbeda. Jalan ceritanya mengalir dan aku gregetan karena tahu-tahu sudah mentok di halaman terakhir.

Untuk temanya sendiri, aku suka karena tema fantasy yang satu ini anti mainstream. Gaya penulisannya ringan dan aku cepat mengerti apa yang diceritakanmeskipun editornya bilang waktu pertama kali disodorkan cerita ini rada bingung, haha .... peace kak Dini, maaf bongkar aib :p

Sudut pandang yang digunakan sudut pandang pertama tunggal dan menurutku, sudut pandang ini sebenarnya paling susah digunakan karena kalau salah langkah malah jatuhnya boring bangetkarena sudut pandang ini paling tricky sih. Dan karena menggunakan sudut pandang ini, pergolakan batin tokohnya benar-benar terasa.


Terkadang tanpa sadar, aku memandangi adikku sambil mencoba mengingat-ingat beberapa tahun yang lalu, apakah dengan atau tanpa dirinya. Aku mencoba mengerti. Namun tetap saja aku tidak bisa mengerti. Hal itu termasuk salah satu hal yang terlalu rumit untuk seorang anak berusia sepuluh tahun. — hlm 12

Dan kalau tidak ada typo, aku pasti kasih rating 5.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku