Kamis, 01 Januari 2015

I Find It In Your Eyes (Year #1)




Judul : I Find It In Your Eyes (Year #1)
Penulis : Sabrina Zee
No ISBN : 9786027122000 
Tahun Terbit : 2014
Jumlah Halaman : 392 halaman
Rating : ☆☆☆ ½
Jenis : Paperback 
Penerbit : Kosa Publishing
Sinopsis :
Michael punya segalanya: wajah tampan, pesona, dan kharisma yang membuatnya disukai banyak perempuan. Dan ia memperlakukan perempuan-perempuan itu sesukanya.

Di dalam hidupnya, Clara selalu mengutamakan sekolah dan ayahnya di atas segalanya. Tapi satu perlakuan memalukan dari Michael membuatnya memusuhi cowok itu dan ia pun berusaha menasehati sahabatnya untuk tidak mencintai cowok itu.

Sebuah taruhan iseng dari teman-temannya membuat Michael harus memenangkan hati Clara. Hanya saja ia tidak menyangka kalau cinta akan tumbuh di hatinya. Dan kebohongan Michael itu tidak hanya membuat Clara kehilangan sahabatnya, tapi juga cita-citanya. Jadi dengan terpaksa, Clara meninggalkan cowok itu. 

Delapan tahun kemudian, mereka bertemu kembali dalam keadaan yang sudah jauh berbeda. Tapi cinta itu masih tersimpan di dalam hati Michael. Dan kali ini, ia tidak akan melepaskan Clara lagi sekalipun itu berarti ia harus mengaku sebagai orang lain hanya untuk bisa bersama gadis itu.



*
*
*
*

Novel pertama yang aku menangkan saat undian di grup BBI facebook. Sebenarnya gak nyangka juga, karena kadar keberuntunganku untuk undian itu terkenal rendah banget, jadinya pas buku ini sampai ke rumah, terharunya bukan main :"))

Maaf into di atas yang gak perlu itu. Habisnya aku senang banget sih :"))

Oke, back to the topic. Karena buku ini aku menangkan dan otomatis aku harus membuat reviewnya, maka aku berusaha untuk membuat reviewnya secepat mungkin (meskipun drafnya sudah menganggur dua minggu dan baru bisa dipublish sekarang karena beneran lowong sekarang). Oh iya, ucapin selamat dulu dong sama Mbak Zee yang sudah berhasil menerbitkan novelnya sendiri. Doakan saja ya aku bisa nyusul, wwww

Dan karena aku tipikal reviewer detil, jadi tolong dimaklumi kalau hal remeh temehpun bakalan ditulis di sini. Serta daripada jadinya lebih absurd lagi postingan ini, lebih baik aku langsung ke review buku ini saja ya :D

Kelebihan buku ini antara lain:
  1. Covernya bagus! Serius, aku suka banget sama covernya ini, mengambarkan banget isi keseluruhan buku ini dan entah kenapa setiap melihat cover buku ini bawaanya sesak dada ini bukan karena asma atau teringat hutang review yaa karena ingat ceritanya :"))
  2. Temanya boleh saja klise, tapi cara penyampaiannya yang berbeda sehingga aku menikmatinya. Dan aku jadi kangen sama temanku yang badung dan ketua preman nih (minus dia suka mainin perasaan perempuan sih) gara-gara Michael. Huhuhu ... abang, kangen kamu :")) #loh
  3. Penjelasan latar tempatnya yang mudah untuk dibayangkan. Bukan hanya lewat narasi saja, tapi juga lewat pemikiran para tokohnya saat berada ditempat itu.
  4. Pemikiran tokohnya yang rasional dan cocok banget pada usia mereka. Terutama soal pola pikir holang kayah, cocok banget karena aku kebiasaan bergaul sama orang macam ini sejak TK sampai SMA
  5. Suka dengan persahabatan Michael dengan Bob. Persahabatan cowok menurutku memang persis seperti mereka, saling ejek dan saling mengingatkan dengan cara yang menurut perepuan kasar.
  6. Meskipun setting awal kisahnya berada di sekolah holang kayah dan banyak ekpatriat, tetapi buku ini tidak isinya dialog sebagian besar tokohnya bahasa inggris.
  7. Semua tokohnya hampir semuanya lifeable banget. Dan kenapa aku kasih garisbawahi hampir? Karena Clara menurutku tidak termasuk dan alasan lengkapnya ada di kekurangan buku ini.


Kekurangan buku ini:
  1. Nama tokohnya memang anti mainstream, tapi ada beberapa nama tokoh yang menurutku gak terasa Indonesia banget padahal dijelaskan bahwa dia orang Indonesia. Mungkin untuk novel selanjutnya, penulisnya bisa menyesuaikan nama dengan tempatnya tinggal. Banyak kok nama Indonesia yang kedje-kedje.
  2. Penuturan alur yang terlalu lambat lalu tiba-tiba langsung loncat ke delapan tahun kemudian itu bikin kaget. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan alur yang lambat, tapi aku yakin jika pembaca yang tidak suka alur lambat akan langsung menyerah untuk meyelesaikannya, mengingat ketebalan buku ini yang gak mungkin bisa dibaca sekali duduk (dan dalam definisiku, sekali duduk = 2 jam selesai).
  3. Tanda elipsis yang terlalu sering salah. Untuk lebih jelasnya, buka artikel ini
  4. Ada  kata yang menurutku padanannya tidak pas seperti 'celinga-celinguk'. Aku sudah buka kamus KBBI dan kata ini tidak ada dalam kamus. Memang bisa dimengerti oleh orang-orang, tapi menurutku lebih baik lagi jika diganti 'melihat sekitar'. Dan 'kuapan' itu apa? Typo atau bahasa gaul baru (karena buka KBBI tidak menemukan padanannya).
  5. Ada kalimat kondradiksi menurutku pada halaman 19. Michael bilang dia merasa bersalah jika melihat wajah ibunya kecewa, tapi kenapa dia juga bilang kalau ibunya marah-marah dia bisa mengabaikannya? Bukannya marah juga bentuk kekecewaan?
  6. Ukuran font yang terlalu kecil. Mataku agak terasa pedih jika membaca buku ini lama-lama sehingga aku setiap bab baru aku langsung istirahat sejenak sebelum lanjut baca. Lebih baik lagi jika ukurannya diperbesar (aku yakin font buku ini 11 dan bukan 12 seperti standar kebanyakan novel) atau ukuran font tetap tapi spasinya diperbesar (mungkin 1,15 karena aku yakin ini menggunakan spasi 1)
  7. Penyelesaian nasib dokter Frans yang ganteng menggantung. Sebenarnya sih ini lebih kepada protes pribadi ketimbang kekurangan, huhu. Ya gimana, setelah Clara bareng sama Michael, tokoh yang satu ini gak tahu nasibnya bagaimana dan aku sedih banget
  8. Sifat heroine buku ini yang menurutku too good too be true. Dikhianati sahabat sendiri dan eyah seh ujungnya minta maaf juga, tapi bagiku manusia itu bukan tipikal pemaaf dan kalopun dimaafkan hubungan 'persahabatan' tak lagi sama seperti dahulu (well, pengalaman pribadi sih ini sebenarnya. Makanya aku sangsi kalau di dunia nyata ada yang begini). Sebenarnya banyak sih yang bisa kutuliskan sebagai contohnya, tapi aku gak mau spoiler. Intinya, sifat Clara terutama setelah delapan tahun setelah kejadian 'itu' (baca sendiri ya kalau mau tahu ;)) terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Atau akunya saja yang gak pernah ketemu orang begini karena aku tipikal manusia sinis?


Qouote yang aku sukai:

  1. Jangan sampai semua perbuatan elo jadi karma nantinya—hlm 5
  2. Apakah bersikap munafik dan tidak berperasaan seperti mama adalah suatu kebaikan?—hlm 31
  3. Ada beberapa hal di dunia ini yang memang terjadi di luar kendali kita—hlm 81


Secara keseluruhan, aku menyukai buku ini dan aku merekomendasikan buku ini bagi yang ingin bernostalgia dengan masa SMA ataupun yang masih berada di SMA. Dan saran khusus bagi yang membaca ini masih berstatus anak SMA, kalian perhatikan saja anak-anak badung di sekolah kalian atau di kelas kalian. Karena menarik loh melihat perkembangan mereka sepuluh tahun dari kalian lulus sekolah sampai reuni lagi.

3 komentar:

  1. Thanks banget buat reviewnya, Shen Mei Leng :) Saya baru tahu soal elipsis, soalnya dari zaman dulu kalau nulis elipsis nggak dikasih spasi. Suka baca reviewnya yang detail dan bisa dijadiin masukan biar bisa lebih baik ke depannya.

    Ini pertama kali dapat komentar kalau Clara itu too good to be true. Soalnya saya beneran bikin dia berdasarkan sifat ayahnya yang apatis :D

    Soal nama ... Tadinya saya memang bikin settingnya di luar negeri dan tokohnya juga westerner. Cuma saya merasa menulis negara sendiri lebih bagus. Tapi nama tokohnya memang nggak saya ubah kecuali nama belakang, hehe ...

    Thanks sekali lagi. Happy that you enjoy it.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah syukurlah reviewnya gak bikin penulisnya kesal ^^ (karena aku sering dikasih peringatan sama temanku kalau reviewku terlalu to the point dan nyelekit).

      Soal Clara itu sebenarnya lebih kepada selera sih. Cuma aku secara pribadi gak terlalu suka sama sikap Clara yang too be good to be true. Menurutku seperti Mary Sue (tokoh perempuan yang sangat sempurna dalam segala hal, meskipun setelah aku pelajari lebih lanjut, sempurna dalam segala hal itu kembali lagi soal pandangan yang baca dan selera).

      Ah, terjawab sudah kenapa namanya gak terasa 'Indonesia'. Oh iya kak, sedikit koreksi, kalau menggunakan elipsis di akhir kalimat itu titiknya ada 4, bukan 3 karena titik keempat itu untuk penana bahwa itu berada di akhir kalimat. Contohnya "hehe ...." (dan kenapa aku berujung kembali mengoreksi elipsis di komentar -_-) #sungkem

      Lalu ... dokter Frans sama siapa? Sama aku aja ya kak *wink wink* #maumu

      Hapus
    2. Ya, ampun. Beneran itu elipsis kebiasaan banget :(

      Reviewnya bagus kok. Saya senang dapat kritik lengkap soalnya biar bisa buat belajar. Masokis gitu. *lupakan kalimat terakhir

      Haha .... Frans tadinya mau saya bikin ceritanya sendiri. Tapi masih bingung, jadi ya sudahlah. *emang dasar penulisnya malas #ditendang ke laut

      Hapus

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku