Selasa, 17 Februari 2015

Remember Dhaka

Ketika cinta datang dengan cara yang tak biasa
Judul: Remember Dhaka
Penulis: Dy Lunaly
No ISBN: 9786029397642
Tahun Terbit: Januari 2013
Rating: ☆☆☆☆ ½
Jenis: Paperback
Penerbit: Bentang Belia
Sinopsis: 

Di antara dunia baruku yang absurd, aku menemukanmu.

Di antara semerawutnya kota ini, kamu datang seperti peri.

Kurasa, kamu jadi alasan terbesarku bisa dan mau bertahan di sini.

Dhaka, tak pernah sekali pun terpikir olehku sebelumnya.

Bersama kamu, aku bisa menemukan diriku.

Karena kamu, kota ini jauh lebih hidup di mataku.

Jadi, tetaplah di sini.

Tetaplah indah seperti peri.




Hngg... sudah lama tidak menulis review dan rasanya 'canggung' banget, hahaha #alasan Ini review di bulan Februari ini. Sepertinya karena masih terbawa musim liburan kuliah, jadi merasa bisa libur dari segala hal. Dan sepertinya, gaya reviewku bakalan berubah lagi deh.

"Their mother very nice, dan gampang dekat dengan orang baru. Nanti setelah acara outing selesai, kamu antar mereka pulang. Sometimes better to see it by yourself and konw something for the one who never experienced it."—hlm 95

Oke, cukup membahas soal alasan kenapa blog ini tidak ada postingan selama beberapa lama. Sekarang aku mereview buku Dy Lunaly yang berjudul 'Remember Dhaka' ini. Sebenarnya ini sudah aku baca sejak bulan Januari, tapi terlalu malas untuk menuliskan reviewnya #dibejek #janganditiru

"Kita yang menciptakan tempat untuk diri kita sendiri, Jun. Selama kita berpikir ini bukan tempat kita, selamanya akan berakhir seperti itu. Tapi, kalau kamu mau berusaha sedikit lebih keras, kamu bakal tahu ini tempatmu." Emma melihatku. "Untuk alasan, bukankah perbuatan baik tidak membutuhkan alasan?"—hlm 77

Sebenarnya, awalnya aku tidak menaruk ekspetasi apapun pada buku ini. Bahkan bab pertama buku ini sudah mendukung apa yang aku pikirkan dan hampir membuatku memutuskan untuk tidak meneruskan membaca buku ini. Dan lagi-lagi, aku minta spoiler sama mbak sepupuku soal buku ini baru mau membacanya. Jalan ceritanya mengalir dan setelah selesai membaca buku ini, membuatku termenung, memikirkan apa yang telah aku lalukan selama ini. 


"Money can't buy anything. Money can't buy the future, you know why? Because the future made by every single tear and sweat. Future is what path you choose today! You should learn it!"—hlm 6

Awal ceritanya yang menceritakan Arjuna yang baru pulang dari sekolahnya setelah merayakan kelulusannya, langsung mendapatkan omelan dari kakak perempuannya, Agni. Arjuna yang masa bodoh dengan omelan tentang masa depannya yang mau jadi apa nanti—biasalah kalo anak holang kayah bandel dan merasa duit orangtuanya bisa membiayainya, jadi tidak perlu berusaha. Namun Agni tidak tinggal diam dan mendaftarkan Arjuna untuk menjadi volunteer di Dhaka. Sisa ceritanya ... silahkan baca sendiri ya #dikepruk


"Juna, kamu jangan berekspetasi macam-macam, tapi juga jangan langsung underestimate sama tempat tujuan kamu. Percaya sama kakak, setiap tempat menyimpan keindahannya sendiri. Begitu juga India dan Bangladesh. Enjoy your trip, brother."—hlm 30

Mungkin diantara seluruh bab, aku paling tidak suka dengan bab satu dan bab dua karena hngg ... gimana ya jelaskannya. Pemikiran cowok yang asli gak bakalan seperti yang ada di dua bab itu—sekekanakan apapun sifat mereka. Namun itu segera aku lupakan karena ada beberapa halaman yang menampilkan blog Arjuna yang menceritakan pengalamannya.


The true happiness is not when you happy because you get what you want but when you make the other happy by doing something to them. Why? God makes the happiness to be shared and not to be enjoyed alone.—hlm 91

Untuk ending cerita ini sebenarnya bisa dikategorikan sebagai cliffhanger ending—akhir yang menggantung. Tapi sebenarnya aku puas jika digantung sampai postingan blog Arjuna, karena menurutku kalau diteruskan sampai selesai jatuhnya tidak sekeren ini.


"Minta maaf selalu mudah kalau kamu benar-benar bermaksud meminta maaf, Agni told me that along times ago." Emma menatapku lembut. "Jadi karena itu kau menghindariku beberapa hari ini?"—hlm 151

Untuk gaya bahasa, sebenarnya aku bisa bilang buku ini terlalu banyak menggunakan bahasa tidak baku untuk percakapannya. Kalau yang diajak ngomong orang-orang Indonesia, itu masih wajar. Tapi kalau temanmu yang dari luar negeri dan bahkan bercakap-cakap dengan penduduk sana dengan bahasa yang tidak baku? Emmm ... not good.


"Caring for the other is like a drop of water. It will make ripples throughout the entire pond."—hlm 155

Jadi, pada akhirnya aku memberikan empat setengah bintang pada buku ini. Direkomendasikan untuk yang mencoba merenungkan arti hidup tapi tidak membuat kepala pusing dengan bahasa. Namun bagi yang tidak suka bahasa mixing a.k.a bahasa and english in novel, stay away from this one.

2 komentar:

  1. Wait, aku masih bingung. Jadi Dhaka itu apa ya? Nama orang, organisasi, tempat/sekolah?

    Kok banyakan pake bahasa inggris ya novelnya... bagus sih quotenya, tapi.. ya gitu. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dhaka di sini merujuk pada tempat yang menjadi setting novel ini. Dhaka itu ibukota Bangladesh dan merupakan tetangga India (dan baca-baca dari sejarah, sebenarnya dulu ini memang satu negara dengan India).

      Jangan tanya daku soal kata-kata bahasa inggrisnya yang mendominasi, aku juga masih bertanya-tanya soal yang satu ini

      Hapus

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku