Rabu, 06 Mei 2015

As Seen On TV

Aku ingin jadi orang yang kamu hubungi saat gembira,
bukan yang kamu hubungi saat sedang kesepian saja
Judul: As Seen On TV
Penulis: Christian Simamora
No ISBN: 9786027036215
Tahun Terbit: November 2014
Jumlah Halaman: 484 halaman
Rating: ☆☆☆½
Jenis: paperback
Penerbit: Twigora
Sinopsis:
AKU INGIN JADI ORANG YANG KAMU INGAT SAAT GEMBIRA, BUKAN YANG KAMU HUBUNGI SAAT SEDANG KESEPIAN SAJA.


Dear pembaca,

Jujur saja, sekali ini, aku benar-benar bingung harus mulai bercerita dari mana dulu tentang novel ini. Apakah harus kumulai dari pengakuan pribadiku bahwa novel ini yang paling melibatkanku secara emosional dibanding karya-karya sebelumnya? Ataukah tentang ide dasar ceritanya yang merupakan ketakutan terbesarku?

Mungkin kamu familier dengan alur cerita novel ketiga belasku ini. Bisa jadi, aku malah mengingatkanmu pada seseorang di masa lalu atau malah yang kau kenal sampai sekarang. Kukatakan padamu, novel ini memang tentang dia. Tentang seseorang yang setengah mati ingin kamu benci—karena mungkin hanya dengan begitu kamu bisa berhenti peduli. Tentang dia yang teramat berarti sekaligus yang sering membuatmu menangis seorang diri. 

Jadi, apa keputusanmu? Apakah kamu siap berbagi tawa dan luka bersamaku sekarang? Aku tidak akan menjanjikan apa-apa lagi padamu... selain bahagia menanti di halaman akhir novel ini.

Selamat jatuh cinta.

CHRISTIAN SIMAMORA



Pertama, ini novel dewasa. Jadi yang merasa belum usia 17 tahun ataupun kematangan emosinya masih belum cukup kuat membaca novel adult, segera tutup postingan ini.

Akhirnya kesampaian juga menulis review buku ini. Padahal belinya dari bulan Desember tahun lalu (2014) dan baru di baca Februari (tepatnya dari tanggal 7 Februari sampai 8 Februari 2015 menurut catatan goodread). Maafkan daku yang suka selingkuh untuk menulis review buku lainnya (TT_TT) sungkem sama bukunya

Sebenarnya aku sudah sering mendengar seri #JBOYFRIEND dan banyak teman-teman blogger yang merekomendasikan membaca buku penulis yang satu ini meskipun tema yang diangkat bisa dibilang mainstream tapi penuturannya yang asik. Sebenarnya mau mulai dari buku #JBOYFRIEND yang pertama sih, Pillow Talk, tapi maafkan mata ini yang gak kuat lihat buku yang dipajang di jejeran buku baru, sehingga buku ini yang malah masuk ke keranjang belanjaan.

Oh iya, katanya kalo beli buku ini bakalan dapat cincin Kendra, tapi saat aku di kasir minta sama mbak kasirnya, dia bilang gak ada dikasih stok dari pusat + pasang wajah memelas seolah dia sudah lelah menerima pertanyaan yang sama dari pelanggan yang beli buku ini. Hmm ... sepertinya ini bisa jadi catatan penerbit untuk pendistribusian merchandise secara merata.

Untuk jalan ceritanya sendiri, klise lah. Sahabat berubah menjadi cinta. Dan kebetulan baca ini pas lagi galau-galaunya karena naksir sama teman sekelas tapi sekarang sudah move on kok, suer yang membuatku membacanya jadi baper.

You never love me.
I learn that in a hard way.
I should learn how to unlove you.
Learn how to be happy without you.
Or maybe, I should leave.

Kendra dan Javier adalah sahabat dekat. Dan seperti mitos yang berkembang di masyarakat, persahabatan lawan jenis itu impossible karena pasti salah satu diantara mereka pasti ada yang jatuh cinta kepada yang lainnya. Dan dalam kasus ini, Ken yang jatuh cinta pada Javi. Selama delapan tahun memendam perasaan pada Javi dan harus sering makan hati akibat Javi yang suka tebar pesona dengan cewek lain dan one night stand dengan perempuan-perempuan merlot (julukan yang Ken berikan pada patner one night stand Javi). Padahal Ken sudah seringkali memberikan kode pada Javi bahwa dia menyukai cowok itu, tapi tetap saja Javi tidak peka.

Namun hubungan mereka yang bisa dibilang terlihat baik itu perlahan mulai merenggang saat permainan truth or dare yang dilakukan teman Ken yang bertujuan untuk melihat sejauh mana Javi melihat Ken. Apakah cowok itu melihat Ken sebagai seorang cewek atau hanya seorang sahabat. Namun karena Javi salah memilih kata-kata dan Ken yang terlanjur sakit hati dengan perkataan Javi memutuskan untuk menjauhinya. Bahkan karena saking merasa insecure akibat pendapat Javi, Ken yang awalnya tidak mempedulikan penampilannya berubah 180 derajat. Mulai dari ujung kepala yang rambutnya di cat menjadi soft pink yang sempat membuatku terinsiprasi melakukan hal yang sama kalau saja tidak ingat aku benci pink, hahaha sampai merubah outfit yang biasanya digunakan agar bisa move on dari Javi.

Javi yang masih pusing akibat Ken yang mulai menjauhinya, makin menjadi galau saat Ken didekati oleh Orion yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada Ken saat bertemu. Javi galau, menentukan perasaan yang cemburu karena sahabatnya yang selama ini ada untuknya mendadak menjauhinya serta memilih bersama cowok lain atau ... sebenarnya Javi sudah jatuh cinta pada Ken. Tapi ternyata meskipun bersama dengan Orion, Ken masih belum bisa melupakan Javi. Dan ditambah lagi, sahabat Orion yang bernama Niagara ternyata juga menyimpan rasa kepada Orion.

Jadi pada akhinya, Ken memilih siapa? Orion atau Javi? Dan apakah Javi akan berhenti main one night stand dengan perempuan karena jatuh cinta pada Ken? Lalu nasib Orion dan Niagara bagaimana?

"Kita itu tinggal di dunia yang dibangun dengan nilai moral yang gak fair. Cowok nembak, biasa. Cewek nembak? Hanya di manga saja yang seperti itu dianggap wajar adanya. Kenyataannya, cewek yang nyatain perasaannya duluan biasanya end up dicap agresif dan kegatelan. Dan ngaku deh, nggak sedikit kan yang menganggap nembak itu eksklusif tugasnya kaum lo?" — hlm 34

Temanya memang klise, tapi aku suka penuturan alurnya. Bagi yang suka plot cepat, buku ini bukanlah buku yang tepat karena plot buku ini menurutku cenderung lambat karena romance development antara Ken dan Javi benar-benar diperlihatkan. Bagaimana keduanya yang awalnya denial dengan alasan yang berbeda (Ken yang merasa tidak mungkin Javi menyukainya dan Javi yang merasa Ken 'hanya' sahabatnya), mulai mengakui perasaan satu sama lain sampai menyelesaikan masing-masing masalah yang timbul akibat denial perasaan satu sama lainnya.

Di sini, kalian akan menemukan beberapa kata unik seperti "Merlot Girl" dan "unicorn". Dan fix unicorn sejak 8 Februari maknanya sudah berubah di benakku.

Namun aku tidak bisa memberikan rating tinggi pada buku ini karena aku merasa dikecewakan pada review teman-teman yang sudah membaca buku ini. Katanya ada adegan hawt yang bikin kipas-kipas dan aku sudah mempersiapkan diri untuk menemukan hal itu. Dan sampai di bagian itu, aku hanya mengerjapkan mata dan memasang wajah lempeng sambil bergumam "That's it?"

Yah, mungkin ini soal selera masing-masing. Tapi bagiku sih itu biasa saja, namun malah menjatuhkan ekspetasiku yang cukup tinggi pada buku ini. Namun terlepas itu semua, aku menikmati membaca buku ini.

Direkomendasikan untuk penyuka cerita dimana garis besarnya sahabat jadi cinta. Yang mencari novel adult yang romance development benar-benar terasa dan tidak rush, buku ini cocok untuk dibaca. Dan mungkin bagi yang kepengen baca buku tebal biar bisa mengerem menimbun buku, mungkin buku ini bisa dicoba :p

XOXO, Cheen 
(Shen Meileng)

2 komentar:

  1. Buku ini sudah ada di deretan rak bukuku tapi belum kubaca. Baru kumenangkan bulan lalu di blognya Bang Opan. Alhamdulillah. Tinggal nunggu giliran aja nih dibaca. Masih manteng di waiting list to-read. Hehehe.

    Buku-bukunya Bang Ino kan memang pada buku bantal yes. Kenyang deh rasanya kalau sudah selesai baca. Bahkan sulit bagiku buat menemukan celah kekurangan di karya-karyanya yang serba detil itu.

    Hmmm, by the way, apa baru kali ini baca seri #JBoyfriend? Kalau adegan hawt-nya terasa biasa saja, kayaknya patut dicoba kamu baca Marry Now, Sorry Later yang menurutku dibeberkan secara lebih eksplisit. Menurutku lho ya. Aku kan belum baca yang ASOT ini, jadi belum bisa menakar kadar 'biasa aja' menurut kamu kayak gimana. Hihihi. Karena katamu di sini biasa aja, nggak sampe kipas-kipas amat, ya berarti aku nggak boleh pasang ekspektasi tinggi deh pas baca ini biar nggak kecewa. :D

    Tipe cerita yang berprogres lambat begini justru bikin aku suka dan betah banget bacanya. Meski emang buku bantal, tapi nggak terasa berat buat ngabisinnya. Itu menurutku kelebihan dari novel-novelnya Bang Ino karena packaging-nya (baik fisik mau pun isi cerita) serba menarik. Setuju nggak? :D

    Dapet rating 3,5 bintang darimu. Hmm, good enough, mengingat 2 review(s) darimu yang sebelumnya kubaca itu pada lumayan pedes yes. Hwehehe. Aku simpulkan ini ceritanya menarik dan seperti biasa: happy ending. Yippieee! \( ̄▽ ̄)/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru yang ini aku baca. Mau beli seri lainnya, endingnya ketikung sama novel/komik lain :"))

      Oh iya, aku dari kemarin mau beli Marry Now, Sorry Later. Dan soal biasa aja adengan itunya, mungkin karena aku keseringan baca konten ekplisit. Setuju kalo soal kedetilan itulah point plus bang Ino, soal packing sebenarnya aku menunggu tokoh utamanya yang cowok itu enggak alpha male terus. Aku kepengen lihat beta male bareng sama tokoh alpha woman.

      Aslinya bisa empat bintang kalau saja kemarin gak bandel lihat review orang lain dan jatuhnya kecewa karena gak sesuai ekspetasi.

      Hapus

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku