Kamis, 01 Oktober 2015

Rahasia Hati Lelaki

Judul: Rahasia Hati Lelaki
Pengarang: Syah Fizan
No ISBN: 9786020900025
Jumlah Halaman: 140 halaman
Tahun Terbit: Juni 2015
Rating:
Jenis: ebook
Penerbit: Loveable
Sinopsis:
Aku, Erfin Jonathan Febriandi, atlet bulu tangkis Indonesia terkenal, muda, keren, dan berbakat. Masa laluku bertolak belakang dengan kondisiku saat ini. Saat duduk di bangku SMP, aku cupu (culun punya), kurang gaul, dan kondisi otak pun pas-pasan. Tapi keluguanku berhasil merebut perhatian Naila. Sayangnya, orangtuaku tak mengizinkanku menjalin hubungan dengan Naila, karena kami berbeda suku.

Aku berusaha menata hati untuk melupakan Naila hingga aku masuk SMU. Di sinilah aku mulai menyibukan diri dengan kegiatan OSIS, Paskibra dan Mading. Banyak gadis yang terpikat denganku. Salah satunya, Vina Renatasca, mantan dari sahabatku sendiri, Armen. Namun hubungan ini tak bertahan lama. Masih ada Armen dalam hati Vina.

Aku harus bangkit dari rasa sakitku. Bulu tangkis menjadi kegiatan penghibur rasa sakitku. Hingga akhirnya aku menjadi atlet bulu tangkis berbakat dan berkenalan dengan salah satu fansku, Elmira Cidaselia. Iya, dialah gadis yang selalu mendukung dan memberi semangat.

Tapi apakah Elmira Cidaselia sanggup menghapus kesedihanku? Atau, aku lebih baik sendiri karena tak mau lagi ‘sakit’ untuk ketiga kalinya? Untuk Naila dan Vina yang pernah mengisi ruang hatiku, entah aku harus bilang bahagia atau sakit?



Source here, edited by me.


"Pria itu layaknya intan belum digosok. Dan setelah digosok, mereka akan menjadi sebongkah permata yang sangat tinggi nilainya. Hanya wanita baik yang tau potensi prianya dan akan menikmati nilai tertinggi dari pria itu, setelah si wanita mendorong potensi pria itu hingga sukses, layaknya permata yang mahal harganya." hlm 5

Jadi sebenarnya aku bingung harus mereview bagaimana novel ini. Dan untuk pertama kalinya aku memberikan satu bintang pada suatu novel, yang akan aku jelaskan di bawah ini.

Dan sebelum memaparkan kekurangan buku ini (yang kelewatan banyak), mari biarkan aku menceritakan bagaimana aku bisa mendapatkan ebook ini. Waktu bulan Agustus, penerbit Loveable mengadakan bagi-bagi buku gratisan dan sebagai orang yang suka hal gratisan, download saja bukunya tanpa tahu isinya apaan. Karena aku sedang bosan serta tidak ingin pegang buku, jadilah ebook yang aku dapatkan saat bulan Agustus aku cek. Dan pilihanku jatuh ke judul buku ini.

Kelebihan buku ini hanyalah dua, buku ini didapatkan secara gratis saat bulan Agustus dan covernya enak dilihat. Sisanya, hanyalah kekecewaan dan aku merasa membuang waktuku yang berharga untuk membaca buku ini.

Dimulai dari gaya penceritaan yang terlalu "tell" dan bukan "show". Memang sih tidak selamanya kalau menggunakan cara "tell" itu jelek daripada "show" namun sayangnya dalam cerita ini, penulisnya gagal memberikan jiwa pada ceritanya. Aku gak ngerti lagi, kenapa ini buku bisa naik cetak. Kenapa buku macam begini dapat bintang cemerlang di Goodreads? Kenapa ... ah sudahlah, sepertinya tanyaku tidak akan bisa berhenti untuk buku ini.

EYD buku ini hancur, seperti tidak melewati proses editing. Sudut pandang yang digunakan pada buku ini tidak jelas siapa, alurnya terlalu cepat dan karakter utamanya yang tidak relevan banget.
Pada akhirnya, menurutku buku ini hanya pantas untuk mendapatkan satu bintang. Dan harapanku, penerbit Loveable bisa memilih naskah yang berkualitas untuk diterbitkan, bukan hanya karena penulisnya "terkenal" semacam "selebrity social media" tanpa memikirkan isi bukunya. Aku tidak mau penerbit ini dicap sebagai penerbit buku "sampah" oleh orang-orang yang mengerti dunia perbukuan.


Cinta memang memiliki lika-liku. Dan disetiap cinta memiliki masalahnya sendiri. Saat Erfin bercerita tentang masalah percintaannya kepada teman curhatnya, Fiby, ternyata Fiby punya kisah yang hampir sama dengan kisah Ervin dan Vina. Fiby pun mulai bercerita tentang kisahnya (hlm 25)

7 komentar:

  1. Kalau gitu masih ada beberapa novel dari penerbit loveable yang bisa kamu baca, karena aku donlot yang gratisan juga beberapa waktu lalu. Dan hasilnya gk beda jauh dengan ini (menurut aku). Sekarang aku lagi baca yang Magic Hour ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga baru start yang Magic Hour, karena beberapa kali lihat iklannya berseliweran di TV. Tapi aku tidak menaruh eskpetasi apapun pada buku yang aku baca itu (meskipun salah satu penulisnya bukunya aku suka banget).

      Hapus
  2. Sama, aku kurang suka dngan kalo buku berhasil diterbitkan hanya karena kepopularitasan tanpa melewat proses editing. Rasanya kayak, "yo bah-bahno, nanti ya laku." Itu kayak nggak ngehargai duit (bagi yang beli) dan waktu (bagi yang baca). Terus lihat di bawah nama penulis, pasti ekspetasinya gedhe, tapi baca reviewnya kok gini? -_-"
    Oh, ya, akhirnya aku tahu maksud para commenter lain yang nyebutin Kak Shen itu to the point banget xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah begitulah. Banyak penerbit cuma mengejar keuntungan tanpa mempedulikan isi buku yang diterbitkan. Takutnya penerbit begini gak bakalan bertahan lama dan sudah mendapatkan nilai jelek dari pembacanya. Pas ada buku bagus, eh lihat terbitan mana jadi males duluan. Kan kasihan buku bagus ini :(

      Yaa beginilah aku. Aku menulis hanya berdasarkan apa yang aku rasakan.

      Hapus
    2. Sedih, Kak, kalo begitu. apalagi penulis pemula anggapannya jadi nggak penitng banget bagi penerbit yg mentingin keuntungan dari orang yang populer. :'3

      Hapus
  3. Rata-rata memang kayak gitu, banyak penulis dari beberapa penerbit (sebenarnya nggak banyak sih) yang mementingkan nama di balik namanya (ribet ye!) dibanding kemampuannya, ya bisa dilihat lah... penulisnya net-idol gitu, rata-rata yang nulis selebtweet yang itupun hasil tulisannya kayak kultwit yang pernah dipajang di akun twitternya, lebih aneh lagi editornya yang (bisa jadi) malas ngedit apa gimana sih, sayang banget!

    Makanya aku lebih milih nggak review buku di bawah standar, sayang waktu hahaha!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah ngerti kok maksudnya nama dibalik nama (semacam dia femes di sosmed dan nulis berlindung dibalik nama femes itu). Padahal kan fungsi editor kan mengoreksi serta nentuin buku ini layak terbit apa enggak :"))

      Aku kenapa mereview buku beginian?
      1. Yang beli kebanyakan remaja labil dan aku berusaha untuk menyelamatkan mental mereka dari cerita yang "merusak".
      2. Beli buku begini pastinya pakai uang orang tua kan? Bayangkan orang tua kerja susah payah ngumpulin uang biar anaknya bisa jajan, eeh anaknya malah beli buku yang tidak berkualitas. Hati orang tua mana yang gak sakit jika suatu saat inspeksi isi lemari buku anaknya dan menemukan buku yang gak berkualitas?

      Hapus

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku